Bandung (27/09/08): Tradisi Mudik Lebaran

Mudik sudah menjadi bagian tidak terpisahkan bagi kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam yang merayakan Idul Fitri. Seakan menjadi suatu keharusan. Tidak berlebaran jika tidak mudik. Apapun kondisinya dan dengan berbagai moda transportasi berbondong-bondong menuju kampung halaman. Tradisi ini pula yang menyebabkan setiap Ramadhan pengeluaran rata-rata keluarga meningkat 3 kali lipat dari bulan-bulan biasa. Bank Indonesia saja menyebutkan Ramadhan 1429 H telah menyebabkan pengeluaran uang dari Bank sebanyak 36,5 Trilyun, tiga kali lebih besar dari bulan-bulan biasa. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu yang hanya sekitar 34,2 Trilyun.

Mengapa begitu antusias masyarakat Indonesia mudik setiap kali Ramadhan. Jawaban berbagai macam. Yang paling jelas, kerinduan pada kampung halaman biasanya dapat dipenuhi pada saat lebaran. Disamping libur panjang, sejumlah THR juga dibagikan pada saat lebaran. Jerih payah bekerja selama setahun harus dirasakan dalam suasana kebersamaan dengan keluarga di kampung halaman. Suatu hal yang patut kita rasakan sebagai suasana mulia bersama keluarga. Jawaban lainnya adalah kerinduan terhadap apa yang pernah dirasakan semasa kecil di saat lebaran. Kita mungkin mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, tetapi suasana lebaran memang berbeda. Bagi kita yang masih memiliki orang tua dan keluarga, mudik adalah aktualisasi kerinduan dan bakti anak kepada orang tua. Sedangkan bagi kita yang sudah tidak lagi memiliki orang tua dan sanak keluarga di kampung halaman, mudik adalah nostalgia mengingat masa indah bersama ketika masih kanak-kanak dulu. Apapun alasannya, selamat mudik….kembalilah dengan selamat tanpa kurang satu apapun.

Bandung, kembar baru selatan

EP